Rabu, 14 Oktober 2026

Menanti Kemerdekaan di Tapal Batas Belu: Engel Talok Minta Pemerintah Hadir Benahi Infrastruktur hingga Pendidikan

Photo Author
Haman Hendrikus, Mediatihar.com
- Rabu, 12 Agustus 2026 | 00:47 WIB
Ket: Yonas Engelbert Talok, S.Pd., M.I.Pol Anggota DPRD kabupaten Belu dari partai PKB menggelar Reses di Tiga Desa, kabupaten Belu ( foto:MT).

BELU,MEDIATIHAR.COM - Meski Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan ke-81 tahun, sejumlah masalah mendasar masih membayangi kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Persoalan infrastruktur jalan, pasokan air pertanian, jaringan listrik, kualitas pendidikan, hingga anjloknya harga komoditas lokal menjadi keluhan utama warga.


​Aspirasi tersebut mengemuka dalam kegiatan Reses Masa Sidang III Tahun 2026 yang digelar oleh Anggota DPRD Kabupaten Belu dari Fraksi PKB, Yonas Engelbert Talok, S.Pd., M.I.Pol., pada Selasa (11/8/2026). Kegiatan penyerapan aspirasi ini berlangsung di tiga titik, yakni SMAN Lasiolat, Desa Leowalu (Kecamatan Lamaknen), dan Desa Lakanmau (Kecamatan Lasiolat).


-


​Di lokasi pertama, yakni SMAN Lasiolat, Kepala Sekolah Steve Valentino Lakaruna, S.Pd., menyampaikan perlunya perhatian pemerintah daerah dan provinsi terhadap pemenuhan fasilitas dasar sekolah.


​Pihak sekolah mengusulkan penyelesaian pembangunan lapangan voli dan futsal untuk menunjang mata pelajaran PJOK, peningkatan akses jalan menuju sekolah yang juga berfungsi sebagai jalan usaha tani, serta pembangunan pagar keliling.


​"Pagar sekolah sangat dibutuhkan demi keamanan lingkungan serta membatasi masuknya hewan peliharaan warga ke area belajar," ungkap Steve.


​Di Desa Leowalu, Kecamatan Lamaknen, dialog warga menyoroti masalah infrastruktur jalan penghubung Leowalu menuju Desa Ekin dan Nualain yang mendesak untuk ditingkatkan. Jalan ini merupakan jalur vital jika akses utama Leowalu–Fulur mengalami kerusakan atau longsor.


-


​Di sektor pertanian, warga mendesak normalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS), pembangunan bronjong penahan erosi, serta perbaikan intake Irigasi Leowalu 2. Petani mengaku kerap kesulitan air saat musim kemarau untuk mengairi tanaman hortikultura seperti bawang, tomat, dan cabai. Warga juga memohon bantuan hand tractor atau pengerahan operator traktor roda empat dari Dinas Pertanian.


​Sektor pendidikan dan sosial di Leowalu tak kalah menumpuk. Kepala Sekolah Dasar Katolik Leowalu mengungkapkan bahwa hingga kini sekolahnya belum memiliki satu pun guru berstatus ASN. Warga berharap ada pemerataan penempatan guru ASN serta pembukaan porsi seleksi CPNS/PPPK yang lebih luas bagi guru swasta. Selain itu, warga mengeluhkan anjloknya harga jual bawang, jagung, dan kacang tanah, serta meminta pendataan ulang kepesertaan BPJS Kesehatan PBI (Penerima Bantuan Iuran).


-


​Permasalahan tak jauh berbeda ditemukan di Desa Lakanmau. Masyarakat memohon agar status jalan desa ditingkatkan menjadi jalan kabupaten, mengingat Keterbatasan Dana Desa (DD) tidak cukup untuk mendanai pengaspalan secara maksimal.


​Warga juga menyoroti masalah jaringan listrik. Karena keterbatasan tiang dari pihak PLN, sebagian warga selama ini terpaksa menyangga kabel listrik menggunakan kayu dan bambu yang membahayakan keselamatan. Warga mendesak PLN Ranting Atambua untuk menambah sekitar 1.200 meter jaringan dan tiang listrik di wilayah mereka.


​Menanggapi rentetan keluhan warga di wilayah perbatasan tersebut, Anggota DPRD Belu, Yonas Engelbert Talok, menegaskan bahwa seluruh poin aspirasi telah dicatat dan akan diperjuangkan secara maksimal dalam pembahasan anggaran bersama pemerintah daerah.


​"Semua aspirasi Bapak dan Ibu sekalian kami tampung, kami catat, dan kami laporkan untuk diperjuangkan agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi pada tahun-tahun mendatang," tegas Engel.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Haman Hendrikus

Tags

Terkini

X