sosbud

Inan Rai Mother Earth: Ketika Kain Tenun Perbatasan Menjawab Bencana di NTT

Selasa, 29 September 2026 | 05:08 WIB
Ket: Perancang busana Lidwina Viviaty Ng (Vivi Ng) bersama para peraga busana tampil pada sesi akhir peragaan tenun ikat Kabupaten Belu di panggung utama Kriyanusa 2026, JCC, Jakarta (foto:MT)

JAKARTA,MEDIATIHAR.COM- Sebuah layar raksasa berlatar merah memampang angka Rp381.000.000 di panggung utama Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, Senin (28/9/2026). Angka tersebut merupakan total dana bantuan yang berhasil dihimpun untuk korban bencana gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui kegiatan penggalangan dana di ajang Kriyanusa 2026.


​Penghimpunan dana tersebut menjadi penutup dari rangkaian peragaan busana tenun ikat asal Kabupaten Belu, wilayah yang berada di garis perbatasan Indonesia dan Timor Leste.


-


​Pameran kerajinan Nusantara Kriyanusa 2026 yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) berlangsung pada 26–30 September 2026 dengan mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”. Acara yang dibuka oleh Ketua Umum Dekranas, Selvi Ananda Gibran Rakabuming, ini menghadirkan 410 stan dari 257 peserta lintas kementerian, lembaga, Dekranasda, hingga pelaku UMKM.


​Pada hari ketiga pameran, Dekranasda Kabupaten Belu mengambil alih panggung utama melalui peragaan busana bertajuk “Fashion Show Kabupaten Belu, Provinsi NTT & Bazar Charity untuk NTT”. Koleksi yang ditampilkan mengusung tema “Inan Rai Mother Earth by Vivian”, karya perancang busana Lidwina Viviaty Ng.


​Dalam kebudayaan etnis Tetun di Belu, istilah Inan Rai bermakna “Ibu Bumi” atau “Ibu Tanah”. Konsep ini menempatkan alam sebagai entitas yang memberikan kehidupan dan perlindungan. Perwujudan filosofi tersebut dihadirkan melalui penggunaan kain tenun ikat khas Belu (tais) berbasis pewarna alami (natural dye).


​Proses pembuatan tais secara tradisional memakan waktu empat hari hingga dua bulan untuk satu lembar kain. Pewarnaannya memanfaatkan bahan-bahan alam seperti daun tarum (indigo) untuk warna biru, akar mengkudu untuk merah marun, serta kunyit dan kulit kayu lokal untuk warna kuning dan cokelat.


-


​Upaya melestarikan pewarna alami di Belu telah berjalan secara berkelanjutan. Dekranasda Belu mencatat pelatihan pewarna alami bagi penenun lokal telah diinisiasi sejak 2018, yang kemudian diperkuat kembali lewat program pendampingan intensif pada 2025.


​Pengembangan ekosistem tenun di Kabupaten Belu turut memicu transformasi peran sosial ekonomi para perempuan penenun (ina-ina). Aktivitas menenun tidak lagi sekadar kegiatan domestik, melainkan menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus identitas budaya.


​Di Desa Faturika, Kecamatan Raimanuk, misalnya, para penenun berkumpul di rumah adat untuk menenun bersama sebelum menjual hasilnya ke Pasar Halilulik, Atambua.


​Dukungan pemerintah daerah turut memperkuat ekosistem tersebut. Sejak 2016, Pemerintah Kabupaten Belu mewajibkan penggunaan tais bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap hari Kamis untuk menjaga keberlanjutan pasar lokal. Selain itu, promosi tenun Belu juga telah merambah panggung internasional, termasuk pameran di Moskow pada 2018 dan kolaborasi rancangan bersama desainer luar negeri di Atambua pada 2019.


​Selain sebagai ajang unjuk kriya dan budaya, peragaan busana ini diintegrasikan dengan aksi kemanusiaan. Penyelenggaraan lelang dan bazar amal ditujukan untuk membantu penanganan dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.


​Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 10 September 2026, bencana tersebut mengakibatkan 136 korban jiwa serta kerusakan pada lebih dari 102 ribu unit rumah, dengan wilayah terdampak terparah di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.


​Dari perhelatan di panggung Kriyanusa 2026 ini, dana charity yang terhimpun sebesar Rp381 juta disalurkan sepenuhnya untuk membantu pemulihan dan penanganan para korban bencana gempa bumi di NTT.

Tags

Terkini